104 Santri Diwisuda, SPM Mu’adalah Al-Mashduqiyah Buktikan Lulusan Pesantren Mampu Bersaing di Tingkat Nasional dan Internasional

Kraksaan, 11 Juli 2026 – Pondok Pesantren Al-Mashduqiyah Kraksaan sukses menyelenggarakan Haflat at-Takhrij (Wisuda Abituren) Angkatan XXIII Satuan Pendidikan Muadalah (SPM) Halaqah Mu’allimin wal Mu’allimat di Auditorium Al-Mashduqiyah, Sabtu (11/7/2026). Sebanyak 104 santri jenjang Wustha dan Ulya resmi diwisuda setelah menyelesaikan pendidikan Mu’adalah yang memadukan penguasaan ilmu-ilmu keislaman, pembentukan karakter, serta kompetensi akademik.

Acara berlangsung khidmat dan dihadiri oleh jajaran Kantor Kementerian Agama Kabupaten Probolinggo, para wali santri, dewan masyayikh, majelis masyayikh, dewan asatidz, serta keluarga besar Pondok Pesantren Al-Mashduqiyah.

Dalam tausiyahnya, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Mashduqiyah, KH. Dr. Mukhlisin Sa’ad, Lc., M.A., mengingatkan bahwa wisuda bukanlah akhir dari perjalanan menuntut ilmu, melainkan awal memasuki dunia pengabdian dan pembelajaran sepanjang hayat.

“Wisuda bukanlah akhir dari perjalanan ilmu, melainkan pintu masuk menuju samudera ilmu yang tidak bertepi. Belajarlah sepanjang hayat, kapan pun dan di mana pun.”

Beliau menegaskan bahwa seorang pencari ilmu tidak boleh merasa cukup dengan pengetahuan yang dimiliki. Semakin luas ilmu seseorang, semakin tawadhu’ dan rendah hati sikapnya. Ilmu yang sejati harus melahirkan akhlak mulia, bukan kesombongan.

KH. Mukhlisin juga berpesan agar para abituren menjadikan pengabdian sebagai jalan hidup. Menurutnya, kemuliaan seseorang tidak diukur dari jabatan maupun kedudukan, melainkan dari manfaat dan pengabdian yang diberikan kepada masyarakat.

“Mengabdilah tanpa pamrih kepada siapa pun semata-mata karena Allah SWT. Hakekat pengabdian berlangsung seumur hidup.”

Beliau mengajak seluruh lulusan untuk terus menjaga kejujuran, amanah, akhlak, etika, dan karakter di mana pun berada, serta menjadikan Rasulullah SAW sebagai teladan utama dalam kehidupan.

Sementara itu, Kasi Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (PD Pontren) Kantor Kementerian Agama Kabupaten Probolinggo, Ansori, yang hadir mewakili Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Probolinggo, Dr. H. Samsur, M.Pd., menegaskan bahwa Satuan Pendidikan Muadalah (SPM) Al-Mashduqiyah Kraksaan memiliki kedudukan yang setara dengan satuan pendidikan formal lainnya, baik yang berada di bawah binaan Kementerian Agama maupun Dinas Pendidikan.

Menurutnya, kesetaraan tersebut tidak hanya pada pengakuan ijazah, tetapi juga memberikan kesempatan yang sama kepada lulusan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi dan mengembangkan kompetensinya.

“Pemerintah telah memberikan pengakuan terhadap keberadaan pesantren dalam sistem pendidikan nasional melalui Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren. Ini menjadi bukti bahwa pendidikan pesantren memiliki posisi strategis dalam mencetak sumber daya manusia yang unggul tanpa kehilangan jati dirinya sebagai lembaga pendidikan berbasis nilai-nilai keislaman,” ujar Ansori.

Ansori juga mengungkapkan bahwa lulusan SPM Mu’adalah Al-Mashduqiyah telah menunjukkan daya saing yang tinggi. Tidak sedikit alumni yang berhasil melanjutkan studi di berbagai Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) maupun perguruan tinggi lainnya, seperti UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, UIN Sunan Ampel Surabaya, bahkan hingga melanjutkan pendidikan ke Kairo, Mesir.

“Hal ini membuktikan bahwa lulusan pesantren mampu bersaing dengan lulusan pendidikan formal lainnya dalam bidang ilmu pengetahuan, teknologi, maupun pendidikan tinggi, tanpa meninggalkan karakter dan nilai-nilai kepesantrenan yang menjadi kekuatan utamanya,” katanya.

Pada kesempatan tersebut, Ansori juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh elemen Pondok Pesantren Al-Mashduqiyah, mulai dari pengasuh, majelis masyayikh, dewan masyayikh, hingga para asatidz yang dinilai memiliki kontribusi besar dalam pembangunan sumber daya manusia Indonesia.

“Kami mengapresiasi peran Pondok Pesantren Al-Mashduqiyah beserta seluruh pengasuh, majelis masyayikh, dewan masyayikh, dan para pendidiknya. Kontribusi mereka sangat nyata dalam mempersiapkan generasi yang berakhlak, berilmu, dan siap menyongsong Generasi Emas Indonesia 2045,” tegas Ansori.

Prosesi wisuda ditandai dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, prosesi wisuda Abituren Angkatan XXIII, pembacaan sumpah dan janji abituren, sambutan wali santri, sambutan pengasuh, sambutan Kementerian Agama, penyerahan piagam penghargaan, penyerahan wakaf, doa, serta penutupan.

Wisuda Abituren XXIII menjadi momentum penting bagi Pondok Pesantren Al-Mashduqiyah untuk terus memperkuat perannya sebagai lembaga pendidikan Islam yang melahirkan generasi beriman, berilmu, berkarakter, serta mampu berkompetisi di tingkat nasional maupun internasional tanpa meninggalkan nilai-nilai luhur pesantren.


Berbagi

Posting Komentar