KH. Romzi Ahmad: Pesantren Harus Melahirkan Generasi Berilmu, Berakhlak, dan Adaptif terhadap Perkembangan Zaman

 

Probolinggo (Kemenag) 7 Juli 2026 – Pengajian Umum Haflatul Ikhtibar Ke-41 Pondok Pesantren Ummul Quro Bantaran menghadirkan KH. Romzi Ahmad yang menyampaikan tausiyah tentang pentingnya menjaga tradisi keilmuan pesantren sekaligus mempersiapkan generasi yang mampu menjawab tantangan zaman.

Dalam ceramahnya, KH. Romzi Ahmad mengajak seluruh jamaah memiliki niat yang tulus dalam menuntut ilmu. "Mudah-mudahan kita semua memiliki alasan batiniyah yang kuat dalam setiap langkah kehidupan," pesannya.

Ia menjelaskan bahwa pesantren merupakan lembaga pendidikan yang sejak dahulu tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga membentuk karakter, akhlak, dan kecakapan hidup. Sebagai contoh, ia mengangkat sejarah Pondok Pesantren Buntet Cirebon yang telah berdiri lebih dari tiga abad dan Pondok Pesantren Gedongan yang telah berusia lebih dari satu setengah abad sebagai bukti kokohnya tradisi pendidikan Islam di Indonesia.

Menurutnya, ilmu agama tetap menjadi fondasi utama, namun santri juga harus menguasai ilmu pengetahuan dan keterampilan agar mampu berkontribusi bagi masyarakat. Karena itu, ia mendorong lulusan Madrasah Aliyah untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi sebagai bagian dari ikhtiar meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

KH. Romzi Ahmad juga menyoroti perubahan pola pendidikan di era modern. Ia menilai pendekatan pengasuhan dan pembinaan generasi saat ini harus lebih humanis, komunikatif, dan penuh kasih sayang. Karakter Generasi Z yang sering disebut sebagai strawberry generation menuntut orang tua dan pendidik lebih sabar serta mampu memberikan pendampingan sesuai perkembangan zaman.

Selain itu, ia mengingatkan bahwa anak merupakan amanah sekaligus ujian dari Allah SWT. Orang tua memiliki tanggung jawab membimbing anak agar menjadi generasi saleh, berbakti kepada orang tua, serta menjadi penyejuk hati keluarga.

KH. Romzi Ahmad juga menekankan pentingnya menghormati guru dan menjaga kesinambungan belajar kepada guru dalam waktu yang panjang. Menurutnya, keberkahan ilmu lahir dari adab yang baik, bukan semata-mata banyaknya pengetahuan yang dimiliki.

Mengutip hikmah Imam Syafi'i dan pemikiran KH. Mustofa Bisri (Gus Mus), ia mengajak jamaah membangun lingkungan pergaulan yang baik, menguatkan kesalehan ritual dan kesalehan sosial, serta memilih sahabat yang saling mengingatkan dalam kebaikan.

Menutup tausiyahnya, KH. Romzi Ahmad mengajak seluruh jamaah untuk terus memperkuat keimanan, menjaga akhlak, menghormati guru dan orang tua, serta menjadikan ilmu sebagai jalan pengabdian kepada agama, masyarakat, bangsa, dan negara. (red).

Berbagi

Posting Komentar