Ngaji dari Khatib Jumat Masjid Ar-Rohim : Mengingatkan Hakikat Kehidupan "Inna Ilā Rabbika Ar-Ruj‘ā"
- Diposting oleh : kabarmerahputih
- pada tanggal : Juli 31, 2026
Probolinggo, 31 Juli 2026 - Pada pelaksanaan Salat Jumat hari ini, Khatib jumat yang merupakan penyuluh agama kemenag ini mengajak umat Islam melakukan refleksi mendalam mengenai hakikat kehidupan dan tujuan akhir perjalanan manusia.
Berangkat dari firman Allah SWT dalam Surah Al-'Alaq ayat 8, *"Inna ilā rabbika ar-ruj‘ā"* (إِنَّ إِلَىٰ رَبِّكَ الرُّجْعَىٰ) yang berarti, *"Sesungguhnya hanya kepada Tuhanmulah tempat kembali,"* khatib menegaskan bahwa seluruh manusia pada akhirnya akan kembali kepada Allah SWT untuk mempertanggungjawabkan seluruh amal perbuatannya.
Dalam khutbah tersebut dijelaskan bahwa dinamika kehidupan modern sering kali mendorong manusia larut dalam kesibukan mengejar keberhasilan material, jabatan, dan pengakuan sosial. Kondisi tersebut berpotensi menggeser orientasi hidup apabila tidak diimbangi dengan kesadaran spiritual yang kuat.
Al-Qur'an hadir sebagai pedoman yang mengingatkan bahwa seluruh capaian dunia bersifat sementara, sedangkan kehidupan akhirat merupakan tujuan yang kekal.
Khatib menekankan bahwa ukuran kemuliaan seseorang dalam perspektif Islam tidak ditentukan oleh banyaknya harta yang dimiliki ataupun tingginya kedudukan yang disandang. Kekayaan dan jabatan hanyalah amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban. Nilai seorang manusia di hadapan Allah SWT ditentukan oleh kualitas ketakwaannya, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur'an bahwa manusia yang paling mulia adalah mereka yang paling bertakwa.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa keberhasilan sejati tidak diukur melalui akumulasi materi maupun status sosial, melainkan melalui integritas moral, keikhlasan dalam beribadah, serta konsistensi menjalankan nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan sehari-hari. Ketakwaan menjadi fondasi utama yang membimbing setiap individu agar tetap rendah hati, menjaga amanah, dan memberikan manfaat bagi sesama.
Ia juga mengulas kecenderungan manusia untuk melampaui batas ketika merasa memiliki kecukupan harta, kekuasaan, maupun kemampuan. Fenomena tersebut telah diingatkan dalam rangkaian ayat Surah Al-'Alaq, yang menggambarkan bahwa rasa cukup sering kali melahirkan kesombongan apabila tidak disertai kesadaran bahwa seluruh nikmat berasal dari Allah SWT dan pada akhirnya akan dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya.
Momentum ibadah Jumat dipandang sebagai ruang muhasabah bagi setiap muslim untuk mengevaluasi kembali orientasi hidupnya. Kesadaran bahwa kehidupan dunia bersifat sementara diharapkan mampu menumbuhkan sikap rendah hati, memperkuat keimanan, memperbanyak amal saleh, serta menghindarkan diri dari perilaku yang merugikan diri sendiri maupun orang lain.
Dalam perspektif pendidikan dan pembangunan karakter, nilai-nilai yang terkandung dalam firman Allah SWT "Inna ilā rabbika ar-ruj‘ā", memiliki relevansi yang sangat kuat dengan tantangan kehidupan kontemporer. Di tengah kompetisi dan arus materialisme, ajaran Islam mengajarkan pentingnya keseimbangan antara ikhtiar duniawi dan persiapan menuju kehidupan akhirat. Kesadaran akan tempat kembali menjadi landasan etis yang membentuk pribadi berintegritas, bertanggung jawab, dan berorientasi pada kemaslahatan.
Melalui pesan-pesan yang disampaikan dalam khutbah Jumat tersebut, umat Islam diharapkan semakin menyadari bahwa setiap perjalanan hidup akan bermuara kepada Allah SWT. Oleh karena itu, harta, jabatan, maupun berbagai bentuk keberhasilan dunia hendaknya dipandang sebagai sarana untuk beribadah dan memberikan manfaat bagi sesama, bukan sebagai ukuran kemuliaan. Pada akhirnya, hanya ketakwaan yang menjadi nilai hakiki seorang manusia di hadapan Allah SWT serta bekal terbaik ketika kembali menghadap-Nya. (Mp).
