Takwa dan Tawakkal: Kunci Menjemput Rezeki yang Halal dan Berkah

 

Probolinggo (Kemenag) Bertindak sebagai Khatib Jumat Masjid Ar-Rohim Kemenag, Penyuluh Agama Islam KUA Sumberasih Ajak Masyarakat Perkuat Takwa, Sempurnakan Ikhtiar, dan Bertawakkal kepada Allah. Jumat, (17/7/2026).

Persoalan rezeki masih menjadi salah satu kegelisahan terbesar yang dirasakan masyarakat. Kekhawatiran terhadap usaha yang kalah bersaing, pendapatan yang tidak menentu, hingga kebiasaan membandingkan diri dengan keberhasilan orang lain sering kali menghilangkan rasa syukur dan ketenangan hati.

Ia juga mengajak umat Islam untuk membangun kehidupan di atas fondasi takwa, ikhtiar, dan tawakkal. Ketiga prinsip tersebut merupakan ajaran Islam yang saling melengkapi dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan, khususnya dalam mencari rezeki.

Allah Swt. berfirman:

«"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim."

(QS. Ali 'Imran: 102)»

Takwa bukan sekadar rasa takut kepada Allah, tetapi diwujudkan dengan menjalankan perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, menjaga kejujuran, amanah, serta menjadikan setiap aktivitas sebagai bentuk pengabdian kepada Allah Swt.

Allah juga memberikan jaminan kepada orang-orang yang bertakwa sebagaimana firman-Nya:

«"Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya dan memberikan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barang siapa bertawakkal kepada Allah, maka cukuplah Allah menjadi penolongnya."

(QS. At-Talaq: 2–3)»

Ayat ini memberikan optimisme bahwa ketakwaan bukan hanya mendatangkan ketenangan batin, tetapi juga menjadi sebab datangnya pertolongan dan rezeki dari Allah dengan cara yang tidak pernah diduga oleh manusia.

Dalam kesempatan tersebut juga disampaikan bahwa masyarakat tidak perlu merasa gelisah ketika melihat orang lain memiliki harta yang lebih banyak, jabatan yang lebih tinggi, atau usaha yang lebih maju. Allah telah mengatur pembagian rezeki setiap hamba sesuai dengan hikmah-Nya.

Sebagaimana firman Allah Swt.:

«"Apakah mereka yang membagi-bagikan rahmat Tuhanmu? Kamilah yang menentukan penghidupan mereka dalam kehidupan dunia dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat agar sebagian mereka dapat memanfaatkan sebagian yang lain."

(QS. Az-Zukhruf: 32)»

Ayat tersebut mengajarkan bahwa perbedaan kondisi ekonomi, kedudukan, maupun profesi merupakan bagian dari sunnatullah agar manusia saling membutuhkan dan saling memberi manfaat. Karena itu, tidak ada alasan untuk iri hati terhadap keberhasilan orang lain.

Rezeki tidak hanya berupa harta benda. Kesehatan yang baik, keluarga yang harmonis, anak-anak yang saleh, lingkungan yang damai, hati yang tenteram, dan kesempatan beribadah juga merupakan nikmat Allah yang tidak ternilai harganya. Semua itu adalah bentuk rezeki yang patut disyukuri.

Islam juga tidak mengajarkan sikap pasif dalam memahami tawakkal. Seorang Muslim diperintahkan untuk bekerja keras, menuntut ilmu, meningkatkan kompetensi, dan melakukan ikhtiar secara maksimal. Setelah seluruh usaha dilakukan, hasilnya diserahkan sepenuhnya kepada Allah Swt.

Dalam mencari nafkah, umat Islam harus menjunjung tinggi nilai kejujuran dan amanah. Tidak mengambil hak orang lain, tidak melakukan korupsi, tidak berbuat curang, serta melayani masyarakat dengan penuh keikhlasan merupakan wujud nyata dari ketakwaan dalam kehidupan sehari-hari.

Allah Swt. berfirman:

«"Dan katakanlah: Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu pula Rasul-Nya dan orang-orang mukmin."

(QS. At-Taubah: 105)»

Ayat ini menjadi motivasi bahwa bekerja merupakan bagian dari ibadah apabila dilakukan dengan niat yang benar, cara yang halal, dan penuh tanggung jawab.

Rasulullah saw. juga mengingatkan bahwa ukuran kekayaan bukanlah banyaknya harta yang dimiliki, melainkan hati yang selalu merasa cukup (qana'ah).

«"Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta, tetapi kekayaan yang sesungguhnya adalah kekayaan jiwa."

(HR. Bukhari dan Muslim).»

Oleh karena itu, masyarakat diajak untuk tidak menghabiskan waktu dengan iri hati dan membandingkan diri dengan orang lain. Fokus utama seorang Muslim adalah memperbaiki kualitas ikhtiar, memperbanyak doa, meningkatkan ketakwaan, serta memperkuat tawakkal kepada Allah.

Sebab pada hakikatnya, apa yang telah Allah tetapkan sebagai rezeki seseorang tidak akan pernah tertukar. Tugas manusia hanyalah berusaha sebaik-baiknya dengan jalan yang halal dan penuh kejujuran, sedangkan hasil akhirnya merupakan ketetapan Allah Yang Maha Bijaksana.

Dengan mengamalkan nilai-nilai takwa, ikhtiar, dan tawakkal, diharapkan masyarakat dapat menjalani kehidupan dengan lebih optimis, tenang, produktif, serta memperoleh rezeki yang halal, berkah, dan membawa kebahagiaan di dunia maupun akhirat. (red).

Berbagi

Posting Komentar