Jakarta — Kementerian Agama terus memperkuat kualitas pelayanan keagamaan dan pendidikan sekaligus meningkatkan komunikasi publik agar keberadaan institusi semakin dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Penguatan tersebut menjadi salah satu pokok arahan dalam pertemuan jajaran Kementerian Agama yang digelar secara daring melalui Zoom, 4 Juli 2026.
Kegiatan tersebut dipandu Sekretaris Jenderal Kementerian Agama RI Prof. Dr. Phil. H. Kamaruddin Amin, M.A., dan diikuti jajaran direktur jenderal, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten/Kota, serta rektor perguruan tinggi Islam seluruh Indonesia.
Dalam pertemuan tersebut, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur Dr. Akhmad Sruji Bahtiar menyampaikan gagasan penguatan tata kelola pendidikan keagamaan agar pengelolaannya semakin terintegrasi dan mampu mendorong peningkatan mutu pendidikan.
Menurutnya, penguatan tersebut perlu dikaji secara serius melalui penyusunan naskah akademik yang didukung kajian kelembagaan dan pembiayaan, termasuk kemungkinan dukungan APBN dan APBD.
Ia menilai pengelolaan pendidikan yang lebih fokus akan memberikan ruang yang lebih besar bagi peningkatan kualitas perguruan tinggi keagamaan maupun madrasah.
“Perlu kita pikirkan bagaimana pendidikan keagamaan ini dikembangkan dan dikelola secara lebih baik. Karena itu, diperlukan naskah akademik yang kuat, termasuk kajian mengenai anggaran dan tata kelolanya,” ujar AS Bahtiar.
Ia menambahkan, penguatan tata kelola diharapkan dapat mempercepat peningkatan kualitas madrasah serta memberikan dukungan yang lebih optimal terhadap perguruan tinggi keagamaan.
Kehumasan Harus Lebih Proaktif
Sementara itu, dalam arahannya Menteri Agama menekankan pentingnya peran kehumasan dalam membangun komunikasi yang sehat antara Kementerian Agama dan masyarakat.
Setiap kegiatan dan program yang memiliki manfaat bagi masyarakat perlu dikomunikasikan secara baik melalui media. Publikasi tidak semata-mata menjadi dokumentasi, tetapi merupakan bagian dari upaya membangun pemahaman dan kepercayaan publik terhadap kinerja Kementerian Agama.
“Posting kegiatan kita ke media ini sangat penting. Kita harus menguasai opini masyarakat,” demikian arahan Menteri Agama.
Menurutnya, jajaran Kementerian Agama perlu lebih proaktif dalam menyampaikan berbagai program hingga ke tingkat bawah. Dengan jaringan kelembagaan yang luas, Kementerian Agama memiliki banyak aktivitas yang bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat.
Karena itu, potensi tersebut perlu dikelola dengan baik melalui strategi komunikasi publik yang terencana, faktual, dan bertanggung jawab.
Pastikan Anak Mendapat Pendidikan Agama
Menteri Agama juga mengingatkan pentingnya memastikan setiap anak Indonesia memperoleh pendidikan agama sesuai agama dan keyakinannya.
Masih adanya keterbatasan guru agama di sejumlah wilayah, khususnya daerah terpencil, menjadi tantangan yang perlu mendapat perhatian bersama.
“Jangan sampai anak-anak kita tidak mendapatkan pembelajaran agama. Di daerah terpencil masih kurang guru agama. Mereka perlu diajari mengaji dan tata cara salat. Termasuk yang di gereja dan agama lainnya. Jangan sampai mereka melewati masa remajanya tidak mendapatkan pembelajaran agamanya,” pesannya.
Pendidikan agama, menurutnya, merupakan bagian penting dalam pembentukan karakter generasi muda. Karena itu, pemerataan akses terhadap pendidikan agama perlu menjadi perhatian seluruh jajaran Kementerian Agama.
Cerdas, tetapi Tetap Arif dalam Melayani
Menteri Agama juga mengingatkan seluruh jajaran agar senantiasa mengedepankan kedewasaan, kehati-hatian, dan kearifan dalam menyampaikan pernyataan kepada publik.
Setiap pejabat dan aparatur Kementerian Agama diminta tidak membuat pernyataan yang dapat memojokkan institusi pemerintah maupun pihak lain.
“Kalau kita memberikan sambutan, jangan sampai memojokkan Kementerian Agama dan pemerintah. Kita harus matang dan dewasa,” tegasnya.
Ia menekankan bahwa kecerdasan harus berjalan bersama dengan kearifan, terutama dalam menghadapi masyarakat Indonesia yang memiliki latar belakang agama dan budaya yang beragam.
“Kita boleh cerdas, tetapi harus arif. Mampu memahami pluralitas. Kemenag penting mencontohkan diri kepada masyarakat. Kita buktikan Kemenag bisa melayani dengan baik,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan agar setiap jajaran tidak melakukan tindakan yang dapat menimbulkan persoalan baru atau menyulitkan pimpinan.
“Jangan pernah menjebak pimpinan kita agar tidak merepotkan dan repot sendiri. Setiap orang mempunyai hak yang sama untuk mendapatkan pelayanan. Semuanya saudara kita sendiri,” lanjutnya.
Perkuat Partisipasi dan Kemandirian Masyarakat
Dalam aspek pembiayaan program keagamaan, Kementerian Agama juga didorong untuk semakin kreatif menggandeng masyarakat dan berbagai pemangku kepentingan.
Menteri Agama menegaskan bahwa anggaran pemerintah merupakan salah satu instrumen pendukung, tetapi kemandirian umat perlu terus dibangun melalui partisipasi masyarakat.
“Mengenai dana, kita harus mampu merangkul partisipasi masyarakat. APBN itu hanyalah pemantik,” ujarnya.
Perguruan tinggi keagamaan, misalnya, diharapkan mampu memperluas komunikasi dan kolaborasi dengan rektor, pemerintah daerah, dunia usaha, alumni, filantropi, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya.
Potensi filantropi juga perlu dikembangkan dengan melibatkan seluruh umat beragama. Pengelolaan dana umat harus diarahkan secara profesional untuk mendukung kegiatan keagamaan dan pemberdayaan masyarakat.
Dalam konteks ekonomi syariah, Kementerian Agama memiliki peran untuk meningkatkan kualitas keberagamaan umat sehingga masyarakat semakin mampu membangun kemandirian ekonomi dan tidak sepenuhnya bergantung pada anggaran pemerintah.
Serapan Anggaran dan Kualitas Program Harus Berjalan Seiring
Menteri Agama juga mengingatkan jajaran Kementerian Agama mengenai pentingnya mempercepat pelaksanaan program dan penyerapan anggaran.
“Khusus untuk teman-teman yang serapannya, ingat kita berperang dengan waktu,” pesannya.
Namun demikian, percepatan penyerapan anggaran harus tetap memperhatikan kualitas, ketepatan sasaran, akuntabilitas, serta manfaat program bagi masyarakat.
Semarakkan Kemerdekaan, Perkuat Kebersamaan
Menjelang peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, seluruh jajaran Kementerian Agama juga diarahkan untuk ikut memeriahkan suasana kemerdekaan di lingkungan kerja.
Kantor Kementerian Agama di berbagai daerah diminta memasang bendera Merah Putih dan menghias lingkungan kantor dengan semangat kemerdekaan. Berbagai kegiatan dan perlombaan sederhana juga dapat digelar sebagai sarana mempererat kebersamaan antarpegawai.
Pada malam 17 Agustus, jajaran Kementerian Agama juga diarahkan melaksanakan istighosah dan doa syukur sesuai agama dan keyakinan masing-masing.
“Agama perlu juga memeriahkan negara. Negara dan agama saling menguatkan,” pesannya.
Menurutnya, kegiatan kemerdekaan tidak harus dilaksanakan dengan biaya besar. Yang lebih penting adalah semangat kebersamaan, gotong royong, dan partisipasi seluruh pegawai.
Agama dan Negara Saling Menguatkan
Pertemuan tersebut menjadi momentum untuk memperkuat kembali komitmen jajaran Kementerian Agama dalam memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.
Kementerian Agama memiliki posisi strategis karena bersentuhan langsung dengan kehidupan keagamaan masyarakat, pendidikan, rumah ibadah, lembaga pendidikan keagamaan, hingga pembinaan umat.
Karena itu, seluruh jajaran dituntut untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan, memperkuat komunikasi publik, membangun kolaborasi dengan berbagai pihak, serta menghadirkan program yang benar-benar memberikan manfaat.
Dengan semangat kebersamaan dan sinergi antara pemerintah, masyarakat, perguruan tinggi, tokoh agama, serta seluruh pemangku kepentingan, Kementerian Agama diharapkan semakin mampu menjalankan perannya dalam memperkuat kehidupan keagamaan sekaligus menjaga persatuan dan kebangsaan.
Mp.
