Menteri Agama: Dakwah Rasulullah Mengajarkan Transformasi dari Kesukuan Menuju Kosmopolitan


Surabaya (Kemenag) — Menteri Agama Republik Indonesia Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, M.A., menyampaikan bahwa dakwah Rasulullah SAW mengajarkan perubahan besar dalam kehidupan masyarakat, dari ikatan kesukuan menuju persaudaraan yang lebih luas dalam bingkai ummah.

Hal tersebut disampaikan Menag dalam orasi ilmiah pada kegiatan Bridging to International Grand Imams Conference (IGIC) 2026 yang dirangkai dengan Istighatsah dan Tabligh Akbar di Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya, Minggu (2/8/2026).

Menurut Menag, Rasulullah SAW tidak hanya mengajarkan ibadah, tetapi juga membangun tatanan masyarakat yang mengedepankan persaudaraan, kasih sayang dan kemanusiaan.

“Rasulullah diutus dari kabilah menuju ummah, dari kesukuan menuju kosmopolitan,” ujar Menag.

Ia menegaskan bahwa Islam harus dibangun dengan kasih sayang. Ikatan umat tidak semestinya berhenti pada suku, kelompok, maupun identitas tertentu, tetapi berkembang menjadi persaudaraan kemanusiaan yang lebih luas.

Dalam konteks tersebut, imam masjid memiliki peran penting. Imam bukan hanya pemimpin salat, tetapi juga pemimpin moral, pendidik, pengikat umat dan duta perdamaian.

“Imam itu mediator antara langit dan bumi, antara Allah dan umat-Nya,” jelasnya.

Masjid sebagai Pusat Kemanusiaan

Menag juga mengingatkan bahwa masjid harus memiliki fungsi yang lebih luas daripada sekadar tempat ibadah.

Ia mencontohkan Masjid Nabawi pada masa Rasulullah SAW yang menjadi pusat berbagai aktivitas masyarakat, mulai dari ibadah, pendidikan, musyawarah hingga pelayanan sosial.

“Masjid Rasulullah berfungsi sebagai rumah besar kemanusiaan,” tuturnya.

Karena itu, masjid di Indonesia diharapkan mampu menjadi pusat pemberdayaan masyarakat, tempat memperkuat persaudaraan, serta ruang untuk menghadirkan kedamaian.

“Masjid harus menjadi pencerah, tidak boleh memprovokasi,” tegas Menag.

Menurutnya, masjid harus menjadi tempat yang menghadirkan Islam yang damai, moderat dan rahmatan lil 'alamin.

Memperkuat Peran Imam di Tingkat Global

Menag mengatakan, Indonesia memiliki potensi besar untuk memperkuat diplomasi keagamaan melalui jejaring imam dan masjid. Ribuan masjid, pesantren, ulama dan imam merupakan kekuatan yang dapat berkontribusi bagi perdamaian dunia.

Melalui International Grand Imams Conference (IGIC) 2026, Indonesia berupaya membangun komunikasi dan jejaring para imam besar dari berbagai negara.

“Dari kesukuan menuju kosmopolitan, menuju kesatuan besar yang namanya umat,” pungkasnya.

Semangat tersebut diharapkan dapat memperkuat peran masjid dan imam sebagai bagian dari upaya membangun persaudaraan, kemanusiaan dan perdamaian, baik di tingkat nasional maupun internasional.

(Red)

Berbagi

Posting Komentar