PORSADIN VII Probolinggo: Meneguhkan Tafaqquh Fiddin, Menyiapkan Santri Berilmu dan Berdaya Saing

PROBOLINGGO — Pekan Olahraga dan Seni Antar Diniyah (PORSADIN) VII Kabupaten Probolinggo menjadi momentum strategis untuk memperkuat tafaqquh fiddin sekaligus membangun karakter dan daya saing generasi santri. Lebih dari 300 santri dari 24 kecamatan mengikuti berbagai cabang lomba dalam ajang yang mempertemukan potensi, kreativitas, sportivitas, dan pendidikan keagamaan tersebut.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Probolinggo menegaskan, PORSADIN tidak boleh dimaknai sebatas kompetisi untuk memperebutkan prestasi. Lebih dari itu, kegiatan tersebut harus menjadi bagian dari gerakan bersama untuk meningkatkan kualitas pendidikan Madrasah Diniyah dan memperkuat pemahaman serta pengamalan ajaran agama.
“PORSADIN bukan hanya tentang perlombaan. Yang lebih penting adalah bagaimana kegiatan ini menjadi momentum untuk memperkuat ajaran Rasulullah SAW dan semangat tafaqquh fiddin,” tegasnya.

Menurutnya, tafaqquh fiddin merupakan bagian penting dalam membangun generasi yang memiliki kedalaman ilmu agama sekaligus mampu mengimplementasikan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan agama tidak cukup berhenti pada penguasaan pengetahuan, tetapi harus melahirkan akhlak, tanggung jawab, kepedulian sosial, dan keteladanan.

Kepala Kemenag Probolinggo mengajak para santri untuk menjadikan PORSADIN sebagai ruang belajar dan pengembangan diri. Ia berpesan agar para santri tidak pernah berhenti menuntut ilmu dan tidak merasa cukup dengan pengetahuan yang telah dimiliki.

“Jangan pernah merasa cukup dalam mencari ilmu. Semua ilmu penting, lebih-lebih ilmu agama. Ilmu agama menjadi bekal kehidupan dunia dan akhirat, sedangkan ilmu pengetahuan lainnya membantu kita menata kehidupan masyarakat, pemerintahan, dan negara,” ujarnya.

Ia menilai para peserta yang hadir merupakan santri pilihan yang mewakili kecamatan masing-masing. Karena itu, mereka diharapkan mampu menunjukkan kemampuan terbaik dengan tetap menjunjung tinggi sportivitas, akhlak, dan persaudaraan.

“Santri pasti mampu bersaing. Jangan pupus semangat untuk belajar dan jangan pernah merasa cukup dalam mencari ilmu,” pesannya.

Penguatan tafaqquh fiddin dinilai semakin relevan di tengah derasnya perkembangan teknologi informasi. Arus digital memberikan akses pengetahuan yang luas, tetapi pada saat yang sama menghadirkan tantangan terhadap pembentukan karakter generasi muda.

Kepala Kemenag Probolinggo menegaskan bahwa perkembangan teknologi tidak mungkin dihindari. Karena itu, anak-anak perlu dibekali kemampuan untuk memanfaatkan teknologi secara bijak dengan tetap memiliki fondasi agama dan moral yang kuat.

“Dunia digital perlu diimbangi dengan penguatan moralitas anak didik. Madrasah Diniyah harus mengambil peran dalam penguatan karakter tersebut,” jelasnya.

Ia juga mengingatkan agar penggunaan telepon seluler tidak mengganggu proses belajar para santri. Teknologi harus diarahkan menjadi sarana pembelajaran dan pengembangan potensi, bukan justru menjadi faktor yang menghambat pendidikan.

Dalam konteks ini, Madrasah Diniyah memiliki posisi strategis sebagai ruang penguatan karakter, moralitas, dan nilai-nilai keagamaan. 

Kepala Kemenag Probolinggo memberikan apresiasi kepada Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah (FKDT) yang dinilai memiliki peran penting dan strategis dalam mendukung pengembangan pendidikan keagamaan di Kabupaten Probolinggo.

FKDT menjadi bagian dari ekosistem yang mempertemukan lembaga pendidikan diniyah, guru, santri, orang tua, tokoh agama, masyarakat, dan pemerintah dalam membangun pendidikan berbasis nilai-nilai keagamaan.

“FKDT memiliki peran yang sangat bagus dan strategis. Kolaborasi, komunikasi, dan kebersamaan harus terus kita kuatkan agar pendidikan diniyah semakin maju,” katanya.

Penguatan pendidikan diniyah tersebut sejalan dengan semangat pembangunan Kabupaten Probolinggo melalui visi Probolinggo SAE: Sejahtera, Amanah, Religius, Eksis, dan Berdaya Saing.

Dalam kegiatan tersebut hadir pula Ketua FKPQ Saiful Ulum, sebagai bagian dari unsur yang turut memperkuat pendidikan Al-Qur’an dan pendidikan keagamaan di Kabupaten Probolinggo.

Menurut Kepala Kemenag Probolinggo, kedalaman ilmu agama harus tercermin dalam perilaku nyata. Salah satu bentuknya adalah kepedulian terhadap kebersihan lingkungan.

Sebelum menghadiri PORSADIN, ia bersama Kepala Seksi Bimas Islam mengikuti gerakan bersih-bersih masjid bersama Menteri Agama RI dalam gerakan yang dilaksanakan secara nasional.

Momentum tersebut menjadi pengingat bahwa nilai agama harus diterjemahkan dalam tindakan konkret.

“Kita mempunyai ajaran bahwa kebersihan sebagian dari iman. Jangan sampai kita memiliki ajaran tentang kebersihan, tetapi lingkungan kita sendiri tidak bersih,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa kebersihan tidak hanya menyangkut lingkungan fisik, tetapi juga kebersihan hati dan perilaku. Pendidikan Madrasah Diniyah harus mampu membentuk santri yang menghormati guru, orang tua, dan orang yang lebih tua serta memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan masyarakat.

Pendidikan juga memiliki peran dalam membentuk masyarakat yang tangguh menghadapi berbagai tantangan. Kabupaten Probolinggo memiliki karakter geografis yang menghadirkan potensi bencana berbeda pada setiap musim, termasuk potensi kebakaran di kawasan lereng Bromo dan Argopuro saat kemarau serta ancaman banjir pada musim penghujan.

Kepala Kemenag Probolinggo menilai berbagai tantangan tersebut membutuhkan kesadaran, kepedulian, dan kolaborasi seluruh elemen masyarakat.

Nilai-nilai yang ditanamkan melalui pendidikan diniyah diharapkan mampu membentuk generasi yang tidak hanya memahami ajaran agama, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan kehidupan sosial.

PORSADIN VII dihadiri Kepala Subbagian Tata Usaha Kantor Kementerian Agama Kabupaten Probolinggo Muhammad Sa’dun, Kepala Seksi Bimas Islam M. Imamuddin Nur Fajri, Kepala Seksi Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (PD Pontren), Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Probolinggo Harry Cahyono, Kapolsek dan Danramil Pajarakan, pengurus FKDT tingkat kabupaten dan kecamatan, tokoh agama, tokoh masyarakat, dewan juri, para pendamping, serta undangan lainnya.

Kehadiran berbagai unsur tersebut menunjukkan bahwa penguatan pendidikan diniyah membutuhkan dukungan lintas sektor. Pemerintah, lembaga pendidikan, organisasi keagamaan, keluarga, dan masyarakat memiliki tanggung jawab bersama dalam menyiapkan generasi yang berkualitas.

Lebih dari 300 santri dari 24 kecamatan mengikuti berbagai cabang lomba dalam PORSADIN VII. Selain menjadi ajang kompetisi, kegiatan tersebut menjadi ruang silaturahmi, aktualisasi potensi, pembentukan sportivitas, dan penguatan jejaring pendidikan diniyah.

Kepala Kemenag Probolinggo berharap PORSADIN tidak berhenti sebagai agenda tahunan, tetapi berkembang menjadi gerakan berkelanjutan dalam meningkatkan mutu pendidikan Madrasah Diniyah.

“PORSADIN kita jadikan momentum untuk saling menguatkan, mempererat kebersamaan, memperkuat ilmu agama, dan mendorong anak-anak kita terus belajar agar mampu menghadapi tantangan zaman,” pungkasnya.

PORSADIN VII Kabupaten Probolinggo mengusung motto “Berkhidmat Bersama Madrasah Diniyah, Membangun Karakter Bangsa.” Semangat tersebut menjadi penegasan bahwa pendidikan diniyah memiliki kontribusi penting dalam melahirkan generasi santri yang berilmu, berakhlak, religius, dan berdaya saing. (red).

Berbagi

Posting Komentar