Semarak Pembinaan Guru TPQ di Kraksaan, 500 Pendidik Perdalam Metode Tartila dan Sambung Sanad

 

Tentu. Berikut versi yang berbeda secara struktur, sudut pandang, dan pilihan diksi, sehingga lebih layak dimuat di website lain tanpa terkesan sebagai salinan berita sebelumnya.

KRAKSAAN — Upaya meningkatkan kualitas pembelajaran Al-Qur’an di tingkat Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) terus digalakkan di wilayah Kraksaan. Sebanyak 500 guru TPQ berkumpul di Pondok Hati Rangkang, Kraksaan, untuk mengikuti kegiatan Pembinaan Guru TPQ Metode Tartila & Sambung Sanad.

Kegiatan tersebut menjadi ruang penguatan kapasitas bagi para pendidik Al-Qur’an, khususnya dalam memperdalam metode pembelajaran membaca Al-Qur’an sekaligus menjaga kesinambungan keilmuan melalui sanad.

Agenda pembinaan menghadirkan KH. Masruhan Maskur sebagai narasumber. Beliau merupakan penyusun buku Tartila: Cara Cepat Baca Al-Qur’an Metode Tartila, yang menjadi salah satu rujukan dalam pengembangan pembelajaran membaca Al-Qur’an dengan pendekatan Tartila.

Kehadiran penyusun metode secara langsung memberikan kesempatan kepada para guru TPQ untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai penerapan metode Tartila dalam proses pembelajaran. Hal tersebut sekaligus menjadi momentum evaluasi dan penguatan kembali kompetensi para pengajar di lapangan.

Guru TPQ sebagai Fondasi Pendidikan Al-Qur’an

Keberadaan TPQ memiliki peran penting dalam membangun kemampuan dasar generasi muda dalam membaca dan memahami Al-Qur’an. Di ruang-ruang pembelajaran TPQ, para santri mendapatkan fondasi awal yang akan menentukan perkembangan kemampuan mereka dalam membaca Al-Qur’an pada tahap berikutnya.

Karena itu, kualitas guru menjadi salah satu faktor utama yang tidak dapat dipisahkan dari peningkatan mutu pendidikan TPQ.

Pembinaan yang mempertemukan ratusan guru dalam satu forum seperti ini menjadi kesempatan strategis untuk membangun kesamaan pemahaman, memperkuat keterampilan mengajar, serta memperluas komunikasi antarpengajar dan pengelola pendidikan Al-Qur’an.

Selain materi metode Tartila, unsur sambung sanad turut menjadi bagian penting dari kegiatan. Dalam tradisi keilmuan Al-Qur’an, sanad merupakan mata rantai transmisi ilmu yang menjadi bagian dari upaya menjaga kesinambungan pembelajaran dan ketepatan bacaan Al-Qur’an dari guru kepada murid.

Kegiatan pembinaan tersebut juga diikuti oleh pengurus PC dan PAC Jam’iyyatul Qurro’ Wal Huffadz (Jamqur) Kraksaan. Kehadiran jajaran pengurus menjadi bagian dari upaya memperkuat koordinasi serta sinergi dalam pengembangan pendidikan Al-Qur’an di wilayah Kraksaan.

Turut hadir Ketua Lembaga Pengembangan Tahfidzul Qur’an Ustadz Ulumuddin dan Ketua Jam’iyyatul Qurro’ Wal Huffadz Habib Anis. Sejumlah undangan serta stakeholder terkait juga hadir dalam kegiatan tersebut.

Keterlibatan berbagai unsur tersebut memperlihatkan bahwa pengembangan pendidikan Al-Qur’an membutuhkan kolaborasi yang berkesinambungan, bukan hanya dari guru dan pengelola TPQ, tetapi juga dari organisasi, tokoh masyarakat, dan pemangku kepentingan yang memiliki perhatian terhadap pendidikan keagamaan.

Terpisah, Kasi PD Pontren Ansori menyampaikan apresiasi terhadap pelaksanaan pembinaan guru TPQ tersebut.

Ia menilai kegiatan peningkatan kapasitas guru perlu mendapat perhatian secara berkelanjutan. Pembinaan secara rutin diharapkan dapat membantu para guru meningkatkan kemampuan sekaligus memperkuat kualitas pendidikan Al-Qur’an yang diberikan kepada para santri.

Ansori juga berharap kegiatan serupa dapat kembali dilaksanakan dengan intensitas yang lebih tinggi.

“Kami menyambut baik kegiatan seperti ini. Ke depan, kami berharap kegiatan pembinaan yang sama dapat lebih diintensifkan kembali agar peningkatan kompetensi guru TPQ dapat berjalan secara berkelanjutan,” ungkap Ansori.

Membangun Ekosistem Pendidikan Al-Qur’an

Partisipasi 500 guru dalam kegiatan tersebut menjadi gambaran besarnya perhatian para pendidik terhadap pengembangan kompetensi dan kualitas pembelajaran Al-Qur’an.

Pembinaan metode pembelajaran dan penguatan sanad diharapkan tidak berhenti pada kegiatan di ruang pelatihan, tetapi dapat diterapkan dalam proses belajar mengajar di masing-masing TPQ.

Dengan demikian, manfaat kegiatan dapat dirasakan secara lebih luas oleh para santri sebagai penerima langsung layanan pendidikan Al-Qur’an.

Kegiatan di Pondok Hati Rangkang tersebut pada akhirnya bukan hanya menjadi forum peningkatan kemampuan teknis guru, tetapi juga menjadi bagian dari ikhtiar membangun ekosistem pendidikan Al-Qur’an yang memiliki kualitas, kesinambungan, dan akar tradisi keilmuan yang kuat.

Melalui pembinaan yang dilakukan secara konsisten, para guru TPQ diharapkan semakin siap menjadi penggerak utama dalam menghadirkan pembelajaran Al-Qur’an yang efektif, terarah, dan berkualitas bagi generasi penerus. (red).


Berbagi

Posting Komentar