YTI Walisongo Resmikan Rumah Tahfidz Abuya Ja’far Baharun, Perkuat Pembinaan Generasi Qur’ani

 


Kab. Probolinggo - Yayasan Tarbiyatul Islam (YTI) Walisongo, Banyuanyar Tengah, Probolinggo, memperkuat komitmennya dalam pengembangan pendidikan keislaman dengan meresmikan Rumah Tahfidz Abuya Ja’far Baharun. Lembaga pendidikan Al-Qur’an tersebut dihadirkan sebagai bagian dari ikhtiar memperluas akses pembinaan keagamaan sekaligus menyiapkan generasi penghafal Al-Qur’an yang memiliki karakter dan akhlak mulia, Selasa, (11/8).

Rumah Tahfidz Abuya Ja’far Baharun dikembangkan melalui sinergi dengan Rumah Tahfidz Center Koordinator Daerah (Korda) Jawa Timur 2. Dari aspek kelembagaan, unit pendidikan tersebut telah memiliki legalitas berupa Nomor Induk Pendirian PL/MA/0364/26, sehingga keberadaannya memiliki landasan administratif dan operasional yang jelas.

Kepala Rumah Tahfidz Abuya Ja’far Baharun, Imron Rosidi, menjelaskan bahwa lembaga tersebut tidak diposisikan semata-mata sebagai tempat menghafal Al-Qur’an. Lebih dari itu, rumah tahfidz diarahkan menjadi ruang pendidikan yang mengintegrasikan penguatan hafalan, pemahaman nilai-nilai Al-Qur’an, serta pembentukan kepribadian santri.

“Melalui sinergi bersama Rumah Tahfidz Center Korda Jatim 2, kami menerapkan standar kurikulum yang sistematis agar para santri mampu menjaga kelancaran hafalan atau mutqin, sekaligus meneladani nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Menurutnya, pola pendidikan yang terstruktur dan berkelanjutan menjadi penting agar proses tahfidz tidak berhenti pada pencapaian jumlah hafalan, tetapi juga berorientasi pada kualitas penguasaan dan pengamalan Al-Qur’an.

Ketua YTI Walisongo, KH Ahmad Ubaidillah, menyambut baik hadirnya Rumah Tahfidz Abuya Ja’far Baharun sebagai unit pendidikan baru di lingkungan yayasan. Ia menilai pengembangan lembaga tersebut merupakan bagian dari respons terhadap kebutuhan masyarakat terhadap pendidikan berbasis keislaman yang kuat dan relevan dengan tantangan generasi masa kini.

“Penambahan Rumah Tahfidz Abuya Ja’far Baharun ke dalam keluarga besar YTI Walisongo adalah wujud komitmen kami untuk terus berkembang dan memberi manfaat yang lebih luas,” ungkapnya.

Ia berharap keberadaan rumah tahfidz dapat menjadi salah satu instrumen penguatan moral dan spiritual generasi muda. Selain melahirkan penghafal Al-Qur’an, lembaga tersebut diharapkan mampu membentuk santri yang berkarakter, berakhlakul karimah, serta memiliki kepedulian sosial dan kemampuan berkontribusi di tengah masyarakat.

Apresiasi juga disampaikan Kasi Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (PD Pontren). Ia menyambut baik dan mengapresiasi hadirnya Rumah Tahfidz Abuya Ja’far Baharun sebagai program strategis dalam memperkuat ekosistem pendidikan Al-Qur’an di masyarakat.

Menurutnya, keberadaan lembaga tahfidz memiliki arti penting dalam menjaga kesinambungan pendidikan Al-Qur’an, khususnya di tengah kebutuhan masyarakat terhadap lembaga pendidikan yang mampu membangun kecerdasan sekaligus karakter peserta didik.

Ia berharap Rumah Tahfidz Abuya Ja’far Baharun dapat berkembang secara konsisten dan melahirkan generasi Qur’ani yang tidak hanya hafal Al-Qur’an, tetapi juga mampu memahami, menghayati, dan mengamalkan ajaran yang terkandung di dalamnya.

Sementara itu, Ansori menilai figur Ustadz Ubaidillah, selaku Ketua Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah (FKDT) sekaligus pengasuh pesantren, sangat relevan dalam mengawal Lembaga kajian dan pendidikan Al-Qur’an tersebut.

“Posisi Ustadz Ubaidillah sebagai Ketua FKDT sekaligus pengasuh pesantren sangat pas untuk memperkuat pelembagaan kajian Al-Qur’an. Pengalaman dan jejaring kelembagaan yang dimiliki menjadi modal penting agar program ini tidak sekadar berjalan secara administratif, tetapi benar-benar tumbuh menjadi pusat pembinaan generasi Qur’ani,” terang Ansori.

Ia menambahkan, kolaborasi antara yayasan, pesantren, FKDT, Rumah Tahfidz Center, dan pemangku kepentingan pendidikan keagamaan merupakan model sinergi yang perlu terus dikembangkan. Dengan kolaborasi tersebut, pendidikan Al-Qur’an diharapkan memiliki tata kelola yang semakin baik, kurikulum yang terarah, serta keberlanjutan program yang terukur.

Peresmian Rumah Tahfidz Abuya Ja’far Baharun sekaligus menjadi penanda dimulainya babak baru penguatan pendidikan Al-Qur’an di lingkungan YTI Walisongo. Dengan dukungan legalitas, kurikulum yang terstruktur, serta kolaborasi lintas lembaga, pihak yayasan optimistis rumah tahfidz tersebut mampu mencetak hafiz dan hafizah yang berkualitas.

Lebih jauh, keberadaan lembaga ini diharapkan tidak hanya memberikan manfaat bagi para santri dan keluarga besar YTI Walisongo, tetapi juga menjadi bagian dari kontribusi pendidikan Islam bagi masyarakat luas. Target akhirnya bukan sekadar melahirkan generasi yang hafal Al-Qur’an, melainkan generasi Qur’ani yang menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman dalam berpikir, bersikap, dan berkontribusi bagi agama, masyarakat, dan bangsa. (red)

Berbagi

Posting Komentar