Habib Qushay bin Abdullah Assegaf Ajak Jamaah Jadikan Maulid Nabi sebagai Momentum Penguatan Mahabbah dan Keteladanan
- Diposting oleh : kabarmerahputih
- pada tanggal : September 06, 2026
(Habib Qushay bin Abdullah Assegaf, Mudir Majelis Maulid Al-Burdah Ulul Albab Probolinggo, saat menyampaikan mauidhotul hasanah dalam kegiatan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di kediaman Andrianus Harsono, Kepala SDN Tunggak Cerme)
PROBOLINGGO — Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang digelar di kediaman Bapak Andrianus Harsono, Kepala SDN Tunggak Cerme, Kabupaten Probolinggo, berlangsung dalam suasana khidmat dan penuh kebersamaan. Kegiatan tersebut dihadiri Habib Qushay bin Abdullah Assegaf, Mudir Majelis Maulid Al-Burdah Ulul Albab Probolinggo, serta sejumlah tokoh agama, tokoh masyarakat, dan warga setempat. Ahad, (6/9/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Habib Qushay menyampaikan mauidhotul hasanah yang menitikberatkan pada pentingnya membangun kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW atau mahabbah, sekaligus menjadikan keteladanan Rasulullah sebagai basis pembentukan karakter dalam kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, peringatan Maulid Nabi perlu ditempatkan lebih dari sekadar kegiatan seremonial tahunan. Maulid merupakan momentum untuk mengenali kembali sejarah, perjuangan, kepribadian, dan akhlak Rasulullah SAW, kemudian menerjemahkan nilai-nilai tersebut ke dalam perilaku kehidupan personal maupun sosial.
“Kecintaan kepada Rasulullah SAW hendaknya tidak berhenti pada ungkapan lisan. Kecintaan itu perlu diwujudkan melalui upaya mengenal, meneladani, dan mengamalkan akhlak beliau dalam kehidupan sehari-hari,” pesan Habib Qushay dalam tausiyahnya.Refleksi Spiritual melalui Kisah Nabi Adam AS
Dalam uraian dakwahnya, Habib Qushay juga mengangkat kisah Nabi Adam AS sebagai bagian dari refleksi spiritual. Ia menjelaskan mengenai keterkaitan pembahasan tersebut dengan kemuliaan Nabi Muhammad SAW dalam tradisi keislaman.
Salah satu bagian yang disampaikan adalah mengenai kalimat Laa ilaaha illallah Muhammadur Rasulullah yang dalam tradisi umat Islam memiliki posisi penting sebagai ungkapan tauhid dan pengakuan terhadap kerasulan Nabi Muhammad SAW.
Habib Qushay selanjutnya mengajak jamaah mengambil pelajaran dari kisah Nabi Adam AS ketika melakukan pelanggaran terhadap larangan Allah SWT. Peristiwa tersebut menjadi refleksi mengenai keterbatasan manusia, pentingnya kesadaran terhadap kesalahan, serta keharusan untuk segera melakukan taubat dan memperbaiki diri.
Al-Qur'an mengabadikan doa Nabi Adam AS dalam Surat Al-A'raf ayat 23:
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
“Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi.”
Menurut pesan yang disampaikan dalam tausiyah, doa tersebut mengandung pelajaran tentang pentingnya sikap rendah hati di hadapan Allah SWT, pengakuan terhadap kesalahan, serta komitmen untuk melakukan perbaikan diri.
Keteladanan Rasulullah sebagai Pendidikan Karakter
Habib Qushay juga menekankan bahwa kecintaan kepada Rasulullah SAW perlu berimplikasi pada pembentukan karakter. Keteladanan Nabi Muhammad SAW, menurutnya, dapat menjadi rujukan moral dalam membangun pribadi dan kehidupan sosial yang lebih baik.
Sifat siddiq, amanah, tabligh, dan fathanah menjadi nilai penting yang dapat direfleksikan dalam kehidupan kontemporer. Kejujuran, integritas, tanggung jawab, kemampuan menyampaikan kebenaran, serta kecerdasan dalam mengambil keputusan merupakan nilai yang relevan dalam kehidupan keluarga, pendidikan, kemasyarakatan, maupun kehidupan profesional.
Dalam konteks sosial, peringatan Maulid juga memiliki dimensi yang lebih luas. Pertemuan masyarakat dalam satu forum keagamaan dapat menjadi ruang untuk memperkuat silaturahmi, membangun kepedulian sosial, serta mempererat ukhuwah di tengah masyarakat.
Zikir dan Selawat sebagai Ekspresi Mahabbah
Selain aspek keteladanan, Habib Qushay mengajak jamaah menghidupkan kecintaan kepada Rasulullah SAW melalui zikir dan selawat. Aktivitas tersebut menjadi bagian dari tradisi keagamaan yang dapat memperkuat kesadaran spiritual sekaligus mengingatkan umat pada nilai-nilai yang dibawa Rasulullah SAW.
Ia mengingatkan agar semangat yang dibangun dalam peringatan Maulid tidak berhenti ketika kegiatan selesai. Nilai Maulid justru perlu diteruskan melalui perilaku nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan perspektif tersebut, Maulid Nabi dapat menjadi momentum muhasabah sekaligus pembaruan komitmen keagamaan: meningkatkan kualitas ibadah kepada Allah SWT, memperbaiki akhlak, memperkuat kepedulian terhadap sesama, serta menjadikan keteladanan Rasulullah SAW sebagai bagian dari orientasi kehidupan.
Kegiatan di kediaman Andrianus Harsono tersebut sekaligus memperlihatkan fungsi sosial kegiatan keagamaan sebagai ruang bertemunya masyarakat, tokoh agama, dan tokoh masyarakat dalam suasana kebersamaan.
Melalui peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, pesan yang dikedepankan bukan hanya mengenang kelahiran Rasulullah, tetapi juga menghidupkan nilai-nilai mahabbah, keteladanan, persaudaraan, dan kepedulian sosial sebagai bagian dari kehidupan masyarakat. (red).

