PROBOLINGGO (Kemenag) - Pengasuh Pondok Pesantren Al-Mashduqiah, Dr. KH. Mukhlisin Saad, MA., menegaskan bahwa pendidikan pesantren tidak hanya membekali santri dengan ilmu keagamaan, tetapi juga membentuk karakter, keterampilan, kemandirian, dan kemampuan untuk berkontribusi di tengah masyarakat.
Hal tersebut disampaikan KH. Mukhlisin saat memberikan sambutan dalam pagelaran Al-Mashduqiah Spektakuler (ASPEK) di Pondok Pesantren Al-Mashduqiah, Patokan, Kecamatan Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, Sabtu (3/10/2026).
Mengusung tagline “Menempa Insan Bertekad Memajukan Peradaban”, ASPEK menjadi panggung seni sekaligus ruang pembelajaran bagi santri, khususnya santri tahap akhir determined generation yang menjadi penggerak utama kegiatan.
Dalam sambutannya, KH. Mukhlisin mengajak seluruh hadirin untuk mensyukuri perjalanan panjang Pondok Pesantren Al-Mashduqiah yang telah dirintis sejak 1998.
“Malam ini kita hadir di tempat ini dalam rangka menyaksikan dan menikmati pagelaran seni akbar Al-Mashduqiah Spektakuler yang dikomandani, diinisiasi, dan di bawah kendali siswa akhir angkatan ke-24,” ujarnya.
Menurutnya, keterlibatan santri dalam menginisiasi dan mengelola kegiatan menjadi bagian penting dari proses pendidikan. Santri tidak hanya menjadi peserta, tetapi diberi ruang untuk mengambil peran, memimpin, berkomunikasi, bekerja sama, dan bertanggung jawab terhadap kegiatan yang mereka selenggarakan.
“Bagaimana kita tidak bersyukur, pesantren yang kita rintis 28 tahun lalu terus tumbuh, terus bertahan, dan bahkan terus berkembang,” katanya.
Dari Pesantren Menuju Pengembangan Pendidikan Tinggi
Dalam kesempatan tersebut, KH. Mukhlisin juga memaparkan perkembangan lembaga pendidikan di lingkungan Al-Mashduqiah.
Ia menjelaskan, empat tahun sebelumnya lembaga pendidikan tinggi yang dikelola masih berbentuk Sekolah Tinggi Ekonomi dan Bisnis Islam Badri Masduqi. Pada 2026, lembaga tersebut telah berkembang menjadi Institut Badri Masduqi (IBAMA).
Saat ini IBAMA memiliki lima program studi, yakni Manajemen Bisnis Syariah, Manajemen Haji dan Umrah, Pendidikan Islam, Manajemen Pendidikan Islam, serta Pendidikan Bahasa Arab.
Perkembangan tersebut, menurut KH. Mukhlisin, merupakan bagian dari ikhtiar untuk terus menjawab kebutuhan pendidikan masyarakat.
“Bukan hal mustahil dan itu menjadi cita-cita kami. Mudah-mudahan dalam empat tahun ke depan beralih menjadi status Universitas Badri Masduqi (UBAMA), dengan program studi umum yang dibutuhkan oleh masyarakat sekarang, masyarakat modern,” tuturnya.
Ia juga menyampaikan bahwa perjalanan pendidikan tersebut tidak dapat dilepaskan dari jasa para pendahulu, khususnya almarhum KH. Badri Masduqi dan Maryamah Ansori yang telah meletakkan gagasan dan dasar perjuangan pendidikan untuk kepentingan dakwah Islam.
Karakter Santri Harus Tetap Melekat
Di tengah perkembangan pendidikan dan tuntutan zaman, KH. Mukhlisin menekankan pentingnya karakter santri. Menurutnya, profesi apa pun yang kelak dijalani para santri harus tetap berpijak pada nilai-nilai Islam.
Santri, katanya, dapat menjadi dokter, sarjana teknik, polisi, TNI, pegawai, pengusaha, maupun menekuni profesi lainnya. Namun, identitas dan karakter santri harus tetap menjadi landasan dalam menjalankan profesi tersebut.
“Kita harus punya karakter santri. Mau jadi dokter, sarjana teknik, polisi, TNI, pegawai, atau apa pun, kita bekerja berdasarkan Al-Qur’an dan hadis,” tegasnya.
Ia menyebut karakter yang ingin ditanamkan kepada para santri bukan hanya kecakapan intelektual, tetapi juga karakter positif, karakter mengabdi, dan karakter berkhidmat tanpa pamrih kepada manusia.
“Kami ingin menanamkan karakter positif, karakter mengabdi, karakter berkhidmat tanpa pamrih, kecuali pamrih kepada Allah SWT. Itulah karakter ikhlas,” ungkapnya.
Pesan tersebut menjadi salah satu landasan penting pendidikan di Al-Mashduqiah. Kemajuan akademik dan profesionalitas, menurutnya, perlu berjalan bersama dengan akhlak, keikhlasan, dan semangat pengabdian.
KH. Mukhlisin menilai ASPEK tidak sekadar menjadi pagelaran seni. Di balik panggung dan berbagai pertunjukan yang ditampilkan, terdapat proses pendidikan yang memberikan pengalaman langsung kepada para santri.
Kegiatan tersebut menjadi ruang bagi santri untuk mengasah keterampilan komunikasi, kolaborasi, berpikir kritis, dan berpikir kreatif.
“Melalui event ini juga anak-anakku belajar tentang keterampilan berkomunikasi, berkolaborasi, berpikir kritis dan berpikir kreatif,” katanya.
Menurutnya, pengalaman yang diperoleh melalui kegiatan tersebut diharapkan tidak berhenti ketika pagelaran berakhir. Nilai-nilai yang dipelajari selama proses persiapan dan pelaksanaan diharapkan menjadi pengalaman yang membekas dan membawa kebaikan ketika para santri kembali ke tengah masyarakat.
“Ini menjadi pengalaman mendalam dalam hati dan kebaikan setelah kembali ke tengah masyarakat,” lanjutnya.
ASPEK sendiri merupakan bagian dari rangkaian kegiatan PROSPEK yang dipimpin santri kelas akhir. Para santri terlibat langsung dalam kepanitiaan dan steering committee (SC), mulai dari perencanaan hingga pelaksanaan kegiatan.
Dengan demikian, proses tersebut menjadi laboratorium pendidikan kepemimpinan bagi santri. Mereka belajar membagi tugas, mengatur waktu, menyelesaikan persoalan, membangun komunikasi, serta bekerja secara kolektif untuk mencapai tujuan bersama.
Pendidikan Muadalah dan Kesempatan Melanjutkan Studi
Dalam sambutannya, KH. Mukhlisin juga menyinggung posisi pendidikan muadalah sebagai salah satu jalur pendidikan pesantren.
Ia menjelaskan bahwa ijazah muadalah yang telah disetarakan dengan jenjang pendidikan madrasah maupun sekolah memberikan kesempatan bagi lulusan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, baik pada bidang yang sejenis maupun berbeda.
Hal tersebut menjadi bagian dari upaya pesantren untuk memastikan para santri memiliki akses pendidikan yang luas setelah menyelesaikan pendidikan di pesantren.
Pendidikan pesantren, menurutnya, tidak boleh dipandang sebagai pendidikan yang terpisah dari perkembangan masyarakat. Sebaliknya, santri perlu dipersiapkan agar mampu melanjutkan pendidikan, memasuki berbagai bidang profesi, sekaligus tetap membawa nilai-nilai kepesantrenan.
Santri Al-Mashduqiah Menjangkau Dunia Internasional
Perkembangan pendidikan di lingkungan Al-Mashduqiah juga ditandai dengan semakin luasnya pengalaman santri dan mahasiswa di luar lingkungan pesantren.
KH. Mukhlisin menyampaikan bahwa saat ini terdapat tiga mahasiswa IBAMA yang tengah melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) internasional di Makkah dan Madinah. Bahkan saat ini diantara alumninya yang sedang menempuh studi di Al Azhar University Cairo.
Menurutnya, pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses memperluas wawasan dan memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk berinteraksi dengan lingkungan yang lebih luas.
Perkembangan tersebut sekaligus menunjukkan arah pendidikan Al-Mashduqiah yang berupaya memadukan nilai kepesantrenan dengan keterampilan dan pengalaman yang dibutuhkan di tengah perkembangan masyarakat.
Pagelaran ASPEK tahun ini dihadiri sejumlah unsur, di antaranya perwakilan Anggota DPR RI Anisa Syakur yang diwakili putranya, Muafi Anggota DPRD Pasuruan, jajaran Forkopimcam, Kapolsek, Danramil, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Probolinggo yang diwakili Kasi PD Pontren Ansori, Lurah Patokan, tokoh agama, tokoh masyarakat, wali santri, santri Al-Mashduqiah, santri tahap akhir determined generation, serta para alumni.
Kehadiran Kasi PD Pontren Ansori menjadi bentuk representasi Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Probolinggo sekaligus dukungan terhadap pengembangan potensi santri melalui pendidikan pesantren.
ASPEK juga dimeriahkan dengan berbagai pertunjukan seni, mulai dari tari, musik, drama, hingga pertunjukan budaya. Rangkaian kegiatan turut diperkuat dengan agenda pendukung seperti bazar UMKM yang melibatkan alumni.
Bagi Al-Mashduqiah, seluruh rangkaian tersebut bukan semata-mata agenda seremonial. Kegiatan menjadi bagian dari proses panjang pendidikan yang menempatkan santri sebagai subjek aktif.
Dari panggung seni hingga kepanitiaan, santri ditempa untuk berani tampil, mampu bekerja sama, bertanggung jawab, berpikir kreatif dan kritis, serta memiliki kesiapan untuk kembali mengabdi di tengah masyarakat.
Perjalanan 28 tahun Al-Mashduqiah pun terus diarahkan pada cita-cita membangun lembaga pendidikan yang mampu melahirkan generasi berakhlakul karimah, mandiri, kreatif, handal, dan mampu berperan dalam pembangunan umat.
Melalui ASPEK, pesan yang ingin ditegaskan bukan sekadar tentang bagaimana santri mampu tampil di atas panggung, tetapi bagaimana proses di balik panggung tersebut menjadi bagian dari ikhtiar menempa insan yang bertekad memajukan peradaban. (red). #santri #peradaban #beradab #menjangkaudunia #internasional
