Kabupaten Probolinggo (Kemenag) – Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah (FKDT) Kecamatan Leces, Kabupaten Probolinggo, menggelar Gebyar Lomba Diniyah sebagai upaya memperkuat karakter santri, meningkatkan kualitas pendidikan keagamaan, serta menumbuhkan semangat berkompetisi di kalangan peserta didik madrasah diniyah. Kegiatan yang dikoordinasikan oleh Ustaz Syamsul Arifin tersebut berlangsung pada Rabu (21/10/2026), bertempat di kediaman Ketua DPAC FKDT Kecamatan Leces.
Gebyar lomba ini menghadirkan tiga cabang kompetisi, yakni lomba azan, lomba tartil Al-Qur’an putra dan putri, serta lomba cerdas cermat diniyah. Ketiga cabang tersebut dirancang untuk mengembangkan kemampuan santri, baik dalam penguasaan ilmu keagamaan, keterampilan membaca Al-Qur’an, maupun pemahaman terhadap materi pendidikan Islam.
Kegiatan ini juga menjadi wujud kolaborasi antara FKDT Kecamatan Leces, Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Leces, serta unsur pengasuh pondok pesantren dan pengelola madrasah diniyah. Sinergi tersebut dinilai strategis dalam memperkuat ekosistem pendidikan Islam berbasis pesantren dan masyarakat.
Sejumlah tokoh agama dan pengasuh pondok pesantren turut hadir, di antaranya yang juga Pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan; Ustaz Adnan, M.Pd., Pengasuh Pondok Pesantren Mambaul Ulum, Pondok Wuluh; Akbar Qomaruzaman, Pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Ulum; KH. Musthofa Yasin (Banat); KH. Muhammad Robiuszaman; KH. Ali Wafa Qodir; serta KH. M. Arif.
Dalam sambutannya pada kegiatan prapelaksanaan lomba, Ansori menyampaikan apresiasi atas inisiatif FKDT Kecamatan Leces yang membangun kolaborasi dengan MWCNU serta para pengasuh pesantren dan pengelola madrasah diniyah. Menurutnya, kegiatan semacam ini bukan sekadar ajang perlombaan, melainkan juga sarana strategis untuk memperkuat pendidikan karakter, mengembangkan potensi santri, dan mempererat ukhuwah di lingkungan pendidikan Islam.
“Langkah FKDT Kecamatan Leces ini patut diapresiasi. Kolaborasi dengan MWCNU, pondok pesantren, dan madrasah diniyah merupakan modal penting untuk membangun pendidikan keagamaan yang lebih kuat, terarah, dan berkelanjutan. Melalui kegiatan ini, santri memperoleh ruang untuk mengembangkan kemampuan sekaligus menumbuhkan kepercayaan diri,” ungkap Ansori.
Ia menjelaskan, santri merupakan generasi Muslim yang memiliki tanggung jawab menjaga nilai-nilai moral, akhlak mulia, serta karakter Islami dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Nilai-nilai tersebut menjadi fondasi penting dalam membentuk generasi yang tidak hanya memiliki kecakapan intelektual, tetapi juga integritas dan tanggung jawab sosial.
Namun demikian, Ansori menegaskan bahwa penguatan karakter keagamaan harus berjalan seiring dengan peningkatan kompetensi dan kemampuan beradaptasi terhadap perkembangan zaman. Di tengah pesatnya kemajuan teknologi informasi dan karakteristik generasi Z yang lekat dengan dunia digital, santri dituntut untuk mampu mengembangkan potensi diri, memperluas wawasan, serta berkompetisi secara sehat.
“Santri tidak cukup hanya memiliki pemahaman agama yang kuat. Mereka juga harus mampu merespons perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, mengembangkan keterampilan, serta mengambil peran dalam membangun peradaban. Dengan bekal akhlak, ilmu, dan kompetensi yang memadai, santri dapat menjadi bagian penting dari kemajuan bangsa,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia menilai madrasah diniyah dan pondok pesantren memiliki posisi strategis dalam menyiapkan generasi masa depan. Selain memberikan pendidikan agama, kedua lembaga tersebut berperan dalam menanamkan kedisiplinan, kemandirian, sikap moderat, serta kepedulian terhadap kehidupan sosial.
Karena itu, kegiatan kompetitif seperti Gebyar Lomba Diniyah perlu terus dikembangkan sebagai bagian dari upaya peningkatan mutu pendidikan keagamaan. Melalui kompetisi yang edukatif, santri dapat mengasah kemampuan, membangun sportivitas, dan memperoleh pengalaman untuk mengembangkan prestasi sesuai potensi masing-masing.
Gebyar Lomba Diniyah FKDT Kecamatan Leces juga mengusung semangat menyambut Hari Santri Nasional ke-12 pada 2026 dengan tema “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas.” Semangat tersebut diharapkan menjadi penggerak bagi seluruh elemen pendidikan Islam untuk terus memperkuat kualitas sumber daya manusia yang berkarakter, berilmu, dan berdaya saing.
Melalui kolaborasi antara FKDT, MWCNU, pondok pesantren, dan madrasah diniyah, kegiatan ini diharapkan mampu memperkokoh sinergi antarlembaga sekaligus mendorong lahirnya generasi santri yang mampu menjaga tradisi keilmuan Islam, menjawab tantangan zaman, dan berkontribusi nyata dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045.